Saturday, August 30, 2025

Gubernur dan Bupati Mangkir Saat RDP, Warga Malinau Selatan Ancam Tutup Jalan

Shares

Berdikari.online – Untuk ketiga kalinya ratusan warga Malinau Selatan mendatangi gedung DPRD Provinsi Kaltara di Tanjung Selor. Warga ini hadir ingin menyaksikan langsung Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara DPRD dengan Gubernur Kaltara dan Bupati Malinau yang berlangsung pada Senin, (8/8/2022)

Namun pupus sudah harapan warga Sungai Malinau yang berjuang di DPRD Provinsi Kalimantan Utara.

Warga mengaku terluka. Gubernur Kaltara dan Bupati Malinau yang diharapkan hadir di gedung dewan, tidak kelihatan batang hidungnya.

“Kami ingin mendengar langsung penjelasan dari para pemimpin kami. Bagaimana mereka mengatasi pencemaran Sungai Malinau. Apa langkah mereka memperbaiki jalan. Tapi lihat sendiri, diundangan DPRD pun mereka tidak mau hadir. Kami kecewa,” ujar Aswan, Ketua LMND, Kaltara yang ikut mendampingi warga Malinau Selatan.

Diketahui, RDP ini menindaklanjuti hasil rapat dewan dengan Tim Peduli Sungai Malinau  terkait pencemaran yang disinyalir dilakukan PT KPUC 1 Agustus lalu.

Hal yang sama diungkapkan oleh pimpinan DPRD Kaltara, pihaknya mengaku kesal karena DPRD ingin mendengar langsung dari gubernur. gubernur hanya mengutus staf dari DPUTR dan Dinas ESDM. Sedangkan Kepala Dinas LH yang juga ditunggu masyarakat juga tidak hadir.

“Kami sudah melayangkan surat sejak tangga 4 Agustus lalu,” kata Ketua DPRD Albert Baya.

Perilaku yang sama turut dipertontonkan oleh Bupati Malinau Wempi W Mawa terhadap warganya dengan menolak hadir pada agenda tersebut.

Ketidakhadiran Wempi ini berdasarkan surat yang dibacakan salah satu anggota dewan. Isinya, bupati tidak akan hadir dan tidak juga mengirim utusan dalam RDP.

Jadilah rapat itu tidak menghasilkan keputusan apa pun.

“Kita bisa lihat sendiri sikap Gubernur sama Bupati. Sepertinya tidak ada niat ingin menyelesaikan masalah ini,” teriak salah seorang warga.

Warga yang merasa tidak mendapat jalan keluar pun mengancam  akan mengambil langkah sendiri.

“Kami sudah sepakat akan menutup jalan menuju tambang. Nda bisa sudah kita berharap dari mereka. Biarlah kami berjuang dengan cara kami sendiri,” kata Elisa Lungu Ketua Tim Peduli.

Sementara itu, sebelum mengikuti RDP, yang juga didampingi puluhan mahasiswa itu melakukan aksi long march. Sampai di depan gedung dewan secara bergantian perwakilan warga melakukan orasi.

Lebih lanjut, Mina Kades Long Loreh berbicara menggunakan pengeras suara. Kades perempuan ini sampai menitikkan air mata.

“20 tahun lebih kami hidup begini. Makan debu, air bersih susah. Tapi mereka tidak peduli. Giliran nyari suara menjelang Pilkada, Pemilu baru mereka datangi warga. Catat omongan saya, kami tidak akan lagi pilih kalian,” teriak Mina lantang sambil bercucuran air mata.(*)

Shares

berita lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Berita Terbaru